KONTRADIKSI BUMI
Semburat kata tak pernah ada dalam perjalanan, kidung agungpun kini tak terdengar, parade keiklasan harus tumbang di antara bisu durjana dunia. aku masih berdiri dalam kehampaan yang tak tau kemana arah dan tujuan, tuhan tak pernah ada. Bedebah, semua orang mengaku bertuhan dan tuhan mereka berbeda, kejora datang di sambut malaikat yang mengepakkan sayap ke segala penjuru, bisu halilintar saling sambar, petaka tiba saat semua mengaku bertuhan. Simpan cerita dari halusinasi yang jelas sampaikan raga yang lenyap di antara tetesan embun di pagi hari, yang mengantar secercah cahaya mentari untuk kehilangan sang bulan
Wajah-wajah munafik datang dari seluruh arah tak henti mencela, sampai kapan noda hitam yang pekat warnanya itu hilang dan tiada lagi ku dengar makian dan hinaan itu, datanglah hai penolong yang bisa berkata yang benar itu ada, dan kesalahan itu pun ada nyatanya, kala semua itu hilang dan lekang dimakan waktu, hidupkan air mata yang terbasuh perih dia atas luka hati yang tak bisa untuk di sembuhkan lagi, bungkam mulut mereka sampai ketenggorokan, hentkan saja nafasnya biar tak bisa lagi bersuara. akan tiba saat di mana tak ada lagi suara yang melengking tentang penghinaan, kala surya hilang dan berganti dengan bintang-bintang yang indah menemani malam yang cukup panjang
Mulut tak kuasa berkata, dan diam kini durja. coba mengalihkan semua fakta yang hilang, dan kini hilang sudah semua fakta tak ada yang mengganggu. ketiadaan yang mengusik hari - hari yang cerah walau terkadang kelabu, temui hati yang sedikit beku hilang tanpa arah, ajarkan keyakinan mungkin bisa lebar bersama leburnya cita, khayalan, dan kenangan mungkin hanya sekedar sapaan Selamat malam
Tangan tak mampu menjamah, kulit tak lagi bisa merasa, dan semua sendi dari seluruh organ tubuh yang mengalirinya tak lagi kunjung mengerakkan, tangan yang sedikit mulai bergerak, jari jemari yang menunjukan kehadiran mungkin aku tak bisa melihat mu tapi, mungkin ku bisa merasakan kehadiran mu, engkau seakan singgah sejenak dalam lubuk sanubari jiwa, dan kemudan pergi saat aku menurunkan jemariku menunjukmu sebagai sebuah pengakuan, mungkin kau akan hadir saat aku berbaring dan memejamkan mata yang sebelumnya tersenyum dan menangis menyebut namamu
Kala mata lupa melihat, saat bayang kini semu tak ada pancaran sinar yang masuk dalam upil tak mengerakkan, apalagi terlihat orang yang menukik tanah, tak lekang dan kekal di bumi bintang melihat manun mata tak mampu melihat dengan jelas siapa bintang itu. Seperti api dan air yang slalu bertanya dalam demdam yang membara, mungkin mata akan tertutup selamanya bila tak ada sang surya yang terlihat perlahan sirna.
Lidah tak berkat dalam kata, mungkin ucapan musnah dalam lingkat lidah.tak bertulang apalagi bersuara hinaan ncacian makian dusta jujur lengkap dalam episode pergerakan lidah yang bergerak keatas,kebawah,mungkin juga ke samping arah. Lidah tak kuasa dalam ketidak berdayaan nya
Mungkin aku berkata tanpa lidah yang memang tak ada dalam rongga mulut yang berlobang bak gua tak bermuara mungkin lidah akan mengikuti suara yang belum letih untuk bersuara atau berkata.
Tangan tak kuasa berjabat dalam genggaman pusara jari garis tangan tak berubah dalam arti tak semakna kala aku takut dalam bergerak, sama seperti kumbang kehilanan bunga, suara kini tak mungkin aku dengar, dalam lambaian tangan tak bertanda mungkin kamu hilang kawan, bersama dekapan jari jemari ynag mulai tua dan aliran darah yang tak normal atau tanganmu akan terlepas dari aliran darah yang mengalir dalam setiap sel yang gantung diantara urat tangan dan tubuh ku, selamat jalan tangan yang terindah yang pernah atau masih tetap ada dalam diri, mungkin kau selalu akan ku gunakan dalam suatu massa yang tak tau dan di mana, kala aku tersadar bahwa aku membutuhkan mu .
Kemudian enyah para penghianat yang tak kunjung henti memakan daging sesama, tak pernah kenyang dalam mencari ketamakan dunia yang tak sebanding dengan pengorbanan, memang hina orang yang tak berbuat dalam gerak munafikan diri dalam imaji kala terbayang dalam benak seakan tiada syurga yang terindah selain dunia. Muak aku melihat mata yang tak tentu arah mencari bangkai yang tak bertuan, bisa jadi ia mencurinya dalam kejapan mata, atau meminta dengan kata yang merdu dalam isarat menghancurkan, mahluk biadab menguntungkan jiwa tapi membohongi nurani, tak kusangka aku bisa melihat segerombolan mahluk penghisap air dari tanah yang kering, mungkin ada yang lebih hina dari apa yang aku perbuat ah,,,bosan aku memikirkan itu semua lebih baik aku pergi dari sini berjalan mengitari setapak demi setapak langah kaki ku, dari pada aku melihat api yang menyala dalam air
Kini aku sampai di sebuah tanah yang tak memiliki nama tapi aku seakan pernah melewati tempat ini, mungkin di alam sadarku tapi aku yakin aku pernah melewati jalan ini entah kapan waktunya aku tak tau pasti, yang jelas aku tau tempat ini, tempat di mana ada sekelompok raga yang bisu tak bicara sepertinya lidah mereka sudah terputus untuk berucap tentang bumi, yang semakin hari semakin hancur tak berbekas sama sekali, sebagaimana lidah mereka tak bergerak sedikit pun dalam setiap lafal yang ku dengar mungkin hanya tanda bahwa aku di perbolehkan untuk melewati jalan ini entah untuk berapa lama, kembali aku pasati kehadiran mereka di sekelilingku tanpa aku sadari jumlah mereka begitu banyak tanpa bisa ku menghitungnya dengan jari jemariku apa salah jalan dalam berjalan mungkin aku salah arah sehingga aku bisa sampai di tanah tak bernama ini. –lidah ku dulu pernah tak bisa bergerak dalam kurun waktu yang cukup panjang karna sesak oleh asap-asap yang membuai ku dalam imaji terbang tinggi di atas dirgantara lautan samudara bernyanyi di atas serpihan awan biru yang berarak cerah melupakan hal yang sebenarnya terjadi di depan mata kepalaku sendiri tak ku kenal ayahku, ibuku, saudaraku apalagi termasuk teman ku karna ini dunia ku, dunia yang mengajarkan aku cara diam pada tanah bisu pada langit karna bumi tak pernah menyapa ku dan langit masih seperti yang dulu hanya bisa berubah menjadi kelam, sampai aku tersadar sampai kapan aku harus menjadi pembisu yang hanya bisa membohongi diri ku sendiri tanpa ku sadari kenyataan nya masih tetap begitu tak berubah walau selama aku terbawa halusinasiku yangtak kunjung selesai. Dan sekarnag aku melewati tempat ini lagi, apakah aku akan kembali dalam imaji sesat yang membuai ku dalam khayalan yang panjang atau aku hanya bisa lewat dengan keselamatan, lidahku yang saat aku keluar aku masih bisa berbicara pada setiap aku yang aku temui, aku bersyukur jika aku bisa lewat jalan ini dengan selamat tapi aku lebih bersyukur jika aku bisa membawa beberapa yang ada di jalan ini agar bisa keluar dari daerah yang suram, biar mereka dapat berbicara tentang dunia yang sebenarnya, paling tidak bisa membuka lebar dua lapisan bibir yang selama ini tak pernah di pakai untuk bercengkerama dalam meniti perjalan hidup yang tak tau sampai kapan akan berakhir bukan kah tuhan tau semua itu mengapa lalu ia menurunkan semua perbedaan ini di bumi lalu mengap ia menurunkan dzatnya dan menciptakan aku, kamu, dia, kalian, juga kita semua bila akhirnya ia yang membuat cerita dalam sekenario nya tentang kehancuran, sekan menguji tapi ini bukan lagi termasuk dalam ujian karna ujian yang sebenarnya tentang keyakinan dan kepercayaan yang tak terbilang batas dan waktu, baik dari segi luas dan jangkauan. Apa yang ada dan hidup di sini kurang mempercaimu meski mereka tak lagi mempercayaimu masih ada firqoh dan bahkan lebih besar dari itu semua yang menyakini mu dzat yang menciptakan dan mematikan setiap apa yang kamu ciptakan semoga aku masih termasuk golongan yang ke dua, hanya aku tak habis pikir engkau yag menciptakan kami dalam syurga dunia tapi kami seakan berada dalam neraka yang di bawahnya menyala api yang membara karna dirimu juga menciptakan perperangan dan kehancuran di sini bila memang ini semua ujian maka kuatkan hati kami yang masih selalu mendambakan kasih sayang mu dalam limpahan rahmat juga kehadiratmu, dan ampunan yang tak terhingga jika semu hal ini adalah kesalah kami maka ampuni kami yang masih belum bisa lebih mendekatkan diri pada cintamu sebagaimana bila ada kataku ada yang menyinggung perasaan mu dalam setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang hamba yang memang hina mungkin juga alfa dari keakuan ku aku bertanya bukan berarti benci tapi karna aku hambamu yang menyakini dirimu satu dzat yang khalik bukan tak percaya tapi karna aku hambamu jadi aku bertanya apakah aku salah bila ku bertanya pada mu ya tuhan ku ???apa kah aku bersalah , andai aku bersalah maka maafkan lah aku dari semua nya














2:05:00 AM
Muhammad Abdillah Asmara


0 comments:
Posting Komentar