Bangsa Koe--->>

Photobucket

Pages

25 Jan 2009

Sang Pencari.....I

GUAM LANGIT

Kelabu menyingkap di antara terang siang matahari seakan panas tak bersahabat dalam lingkup waktu tanpa detik, para tuhan kini sedang bersidang di antara letupan panas matahari yang sombong. Mengutus diri dari peradaban yang mengagungkan nya, tapi para dewa seakan berdebat sengit dalam persidangan. Karna, merasa meraka di pertuhan kan. terlihat tak bersahabat tatanan langit, karna para budi penghuni terbuyar dalam parade kemunafikan, jingga surya fatamorgana katululistiwa tak lagi menampakkan kemerahan, senja sunyi dalam penantian yang tak terhingga, seperti melihat tanah tak berumput, tuhan marah pada dirinya. tak menyangka tangan tak bicara, hanya diam juga tak bisa, karna kelabu bukan untuk bumi bisa jadi selebuit kebohongan. tak kunjung terlihat karna para tuhan tak lagi berbicara pada langit, para penghuni berebut menjadi dewa atau patung yang di sembah. ah mereka hanya sekelompok kecil pertuhanan yang tak pernah habis dalam cerita khayangan. Seperti mayapada yang tergeletak dalam sumur mandalawangi bidadari tak turun untuk mandi atau bersuci.

Trik seakan bermulai dari sini ketika kata tuhan berhenti dalam sabda, seakan aku bisa bersyair tapi ternyata syair-syairku tak lebih indah dari sabdamu ya robb. Dengki aku dengan dosaku tapi aku bersih dalam kehambaan ku, jangan kau pertanyakan lagi cerita mati dari kehidupan ini, mungkin kematian tak datang tanpa aku sadari. lebih baik aku berkhayal tentang keindahan janji dalam ketulusan berhamba, tanpa ku pungkiri aku akan melewati tapak-tapak sejuta mili ketajaman pedang mu yang akan mengoyak setiap urat yang mengalirkan darah ini. mungkin aku tak percaya tapi aku yakin semua itu ada keindahan tersendiri dalam estape waktu entah kapan ia akan datang dan akan ku arungi.

Aku akan bermula dari impian yang menerawang tinggi dalam angan, seperti kala aku bersyair tanpa ada pertentangan dalam hidup. seperti kata nurani yang tak bisa terhenti bersuara dalam rintihan pemberontakan, tak kalah aku dalam perperangan tanpa nyata, sepeti emas bertabur senja membuat aku terkilau tapi terhenyak tersadar karna emas itu hanya putih kekuningan yang terlihat. Tapi sekali lagi ternyata syair-syair ku tak begitu berharga dan sebanding dengan setitik sabda yang kau turun kan dari mana, di mana dan tak tau akan kemana.

Bukan, tidak, mungkin, ah salah sebenarnya apa yang ingin aku katakan atau ku perbuat di sini, seakan aku lebih baik pergi, tanpa dan harus tau dari kemungkinan kehancuran dalam kelemahan ku. Seperti apa tuhan aku tak tau tapi aku menyakini engkau sebagai robb keakuan ku tak berdaya kala aku melihat nama mu. Oh ada rasa dalam kenikmatan bumi yang tersembunyi tanpa bekas atau tanda arah semoga ada cerita kedua dari semua ini.

Mungkin kah aku berguru pada maya?, yang tak memjanjikan kenikmatan yang tiada tara di bandingkan semesta yang tertumpuk dalam genggaman ku. mengapa tak kau syairkan dalam relung hati, karna aku tak sanggup seakan aku berjalan tanpa dan memang aku berjalan tanpa arah, beri aku setitik tanda bahwa ada gelombang yang bertanda aku bisa berjalan tanpa ragu tertuju. Tak berbuat bukan berarti tak bisa tercipta walau mungkin tiada pernah, siapa yang bisa berucap tanpa mengerti apa yang diucap semoga aku bukan termasuk dalam katagori kalian dalam tuntunan mu yang menyesatkan dari ciptaan mu. Karna kehambaan ku bukan untuk di perjual kan apalagi dapat di beli? Semoga aku menadi urat kan letak diri dalam kehidupan ini semoga dan semoga aku berlari dari kelahiran yang tak pantas dari sejenak makna dari sekedar berbohong.

Siap untuk berjalan bukan berarti mau berlari tak lepas mata dan mulut berucap komat-kamit dalam sekte aliran tertentu, tanpa tau apa maksud dari makna ucapan mereka tak mengerti aku karna aku tak bisa memahami siapa dia dan siapa aku, tidak punya sekte tertentu karna golongan bukan milik ku dan aku juga tak mau terikat dalam sekte itu atau apalah?

Ternyata pengikut nya bukan hanya sekedar mahluk tapi berlebih dari mahluk, datang dari daerah yang tak tau dimana, dan meninggalkan tanah tercinta untuk dapat merayakan hari kebesaran untuk seseorang yang telah mati. Rela tidur di pinggiran jalan demi meninggalkan istana yang mewah, seperti apa dan bagai mana jika dunia memiliki sekte yang harus di ikuti tak tau lah yang penting perjalan ini tak tejal semoga saja tak berliku.

Pemujaan para tuhan yang mereka lakukan tak lebih meneriakkan dengan saling membunuh dan meninggal dalam perperangan, memukul diri sendiri, bahkan menusukkan besi panas di antara kulit ari yang tak begitu kebal, seperti orang gila atau seperti kesurupan yang tak bisa menghilang dalam teologi ilmu hitam atau apalah namanya untuk para murid dari tarekat tertentu hanya sebatas dongeng tapi ada.

Ternyata penilaian ku selama ini salah mutlak dari kebenaran yang ada, karna mereka yang kulihat menakutkan ternyata bersahabat dan sangat akrab di antara kehidupan yang tak lebih dari sekedar berhura-hura, para petapa menyepikan diri untuk sebuah ketenangan, menyendiri untuk keabadian hati, tapi mereka yang berhura untuk sebuah kesenangan juga yang mungkin dengan cara yang sedikit berbeda, karna para petapa dan penari yang ada di sini tak ada beda. Menari dengan asma yang mengagungkan ketuhanan dan memuji utusan dan menari tari kehidupan yang tak di mengerti dengan trik atau cara melihat sekali pun, karna tari ini tari ketuhanan. Sebagai kerendahan hati, sebagai diri dan tunduk, untuk bertanya kebesaran tuhan seperti apa? Aku tak tau karna aku tak mau masuk dalam sekte yang tak aku ketahui dalam cerita ke dua dalam 4 dunia ku.

Seakan mau aku berbicara pada kalian tentang kegelisahan hati tapi sama saja aku membuka lebar jalan untuk para pembunuh yang siap menikam ku dari belakan tanpa ku sadari, buat apa juga aku bercerita cerita yang tak kau lihat sendiri. Mereka tetap seperti mereka yang hanya mementingkan diri sendiri dalam kesedihan orang yang di buatnya susah, tetap mengambil kesempatan dari kesempitan yang ada karna jalan mereka terbuka luas untuk menguasai dan menjarah seperti perperangan yang telah usai dan di menang kan oleh pihak nya. Tak bisa berbuat apa-apa denan kelompok seperti ini hanay bisa melihat dan memandang bagai mana ia akan habis di makan oleh segerombolan sepertinya juga, menerkam kawan sendiri bagai menerkam musuh yang tak berdaya dan menyerang teman sendiri tan pa melihat situasi seperti apa mereka yang tak bisa memekik kan suara hati nurani. Bosan aku dengan kalian lebih baik diam saja.

Tak bisa di pungkiri lagi siapa aku dan siapa kalian karna kita tak sama dan itu tak kan bisa selamanya, aku ingin berada di mana aku hanya bisa hidup berdampingan dengan mereka yang berjiwa damai tanpa ada kedendaman yang setiap saat menjalari pembuluh darah mereka, buat apa kamu berkata tanpa mengerti apa yang kamu katakan. Di sini bukan kumpulan pemakan bangkai saudara sendiri tapi di sini tempat di mana orang yang menyembuh kan luka saudara nya? Siapa yang tersakiti?, terlalu banyak yang tersakiti tanpa bisa di sebutkan satu persatu dalam kalimat yang tak jelas ini. Dari kehancuran lambung hati sampai pecahnya pembuluh penahan darah hingga mengakibatkan mereka melampiaskan dengan cara mereka yang tak bisa di lihat dari sini sobat.

Berniat aku mencari sang aktor lengenda dalam dunia khayal, tapi tak kan ada orang yang semacam itu, ingin ku dapati seorang yang mengajarkan aku tentang falsafah hidup yang tiada banding, dengn klimaks di ujung penghabisan cerita. karna ku ingin menjadi yang terbaik dari yang terbaik, seperti kata legenda tanpa ku dunia tak kan ada artinya. Walau hanya sekedar imaji dan ilusi tapi itu bisa terjadi karna ku sekarang berjalan dalam perjalan untuk sebuah pencarian itu semoga dan semoga.

Tapak kaki masih telihat jelas kala ku tatap ke belakang, terasa jauh ku berrjalan tapi ternyata baru sejengkal dari tanah yang ada? Harus kah aku bertanya pada diri yang bodoh tapi mengapa aku bertanya untuk menghina ku sendiri, tak perlu aku pikirkan semua itu karna tak semudah yang ku pikirkan itu semua sudah terjadi.

Kemudian kemarin tak pernah ada dalam benakku , yang tinggal hanay khayal dalam benak tergantung di jiwa yang terbenam di kerendahan hati untuk bertemu dengan keinginan yang memang tak jelas walau seakan jelas. Di perjalan ini ku temui beberapa orang yang tak biasa ku temui mereka seperti ku tapi tak seperti ku, mereka membicarakan semua yang mereka ingin kan tapi ketika mereka bertemu seakan mengingkari kejadiannya. Aku tak tau apa yang berlaku di sini, menghina bukan suatu aib tapi suatu kebiasaan sejumput hinaan buat ketenaran yang tak henti di bicarakan dalam sekte peradaban, muak aku melihat semua yang berlain jenis yang tak tau untuk apa jenis mereka di ciptakan. Tapi mereka mengeluh seakan mengutuk yang menciptakan? Apa salah mereka hinga terjadi kejadian ini, tak di ingin kan namun datang seperti angin yang menyapa terasa tapi tak terlihat semua itu hanya fiktif dari cerita ini, walau ada itu berarti tak ada.

Bolak-balik kata ku ternyat berpengaruh dalam keterikatan ketentuan, tapi aku tak mau terikat karna beban itu jelas adanya, orang yang mempunyai keterikatan itu tak bisa nyaman dalam kehidupan dan tak tenang dalam hari-hari yang tak sepi. Buat apa ku pertanyakan semua ketentuan itu, tak harus dan tak mesti ku lihat jikalau ada menghampiri aku, mungkin kan ku ludahi tepat di depan wajahnya, karna aku tak bisa di ikat dalm kontradiksi manapun aku tak bisa lari dari jalan ku karna pencarian ku tak berujung.

Semua yang kulihat dan ku rasa, seperti tak ayal ku kenang ada rasa lucu dalm ingat dan benci di kenangan, sepohon kayu tak bisa ku jadikan alas untuk berbaring buat apa aku duduk termenung di didepabangun tua yang tak mengurai kata hatiku, belum dan bahkan tak bisa untuk menenangkan hatiku juga hati mereka. Mungkin penghuninya bisu tak bicara atau yang ada hanay para tuli yang tak bisa mendengar dengan jelas suara yang lantang berkata tentang tatanan mahluk tak sepi tapi begitu ramai sorak-sorai para pengikut yang menolak ajaran itu

Wajar saja mereka menolak semua itu, karna itu tak di buat atas nama si baginda hanya di ambil dari ucapan kata para atasan yang tak jelas kemana arah tujuan dari pembicaraan nya, sepertinya mereka mencoba menjebak dengan pertanyan yang menyinggung tapi seakan menembak dari kajauhan yang tak ada batas sekalipun di antara dimensi nya.

Di antara para penghuni ada yang bersapa tanya di dekat ku, sekan berkata bahwasanay memiliki tapi tak memiliki apa yang akan di miliki, aku berkat besar tentang apa yang aku miliki dan belum aku miliki, terserah mereka menanggap pemikiran apa yang jelas itu pemikiran ku, berbeda dengan pemikiran nya, mungkin hari ini aku kalah dan terjatuh seperti hari kemarin tapi hari edok aku tak tau, bisa jadi berdiri tegak dengan congkak dan angkuh atau juga lebih malu atas kekalahan yang di terima siapa yang tau untuk itu kecuali dia?.

Kali ini bukan khayal yang ku lihat tapi keyataan jelas tertatap, seperti kamu melihat seseorang di sampingmu, walau tak kau ingini kehadirannya kau tak bisa memungkiri jika kau melihat nya, seorang wanita yang pernah datang mengajarkan ku beberapa cara untuk bernafsu, yang mengejar birahi yang tak jelas dari mana datang nya. Tapi seakan aku belajar dari seorang hawa, tentang perjalan malam yang tak pernah selesai hanay satu kali permainan. Masih ada gelombang berikutnya untuk yang merimaji dalam khayal yang tak ada penghabisannya kecuali hanay pertanyaan untuk sebuah cerita. Bitu juga betian yang terlahir yang pernah mendekap yang memeluk raga kala kalbu tersa sesak dalam hirupan asal bumi yang tergempal seakan memumbung tinggi sepertio selaksa awan hitam yang akan jatuh tapi tak ada dalam pencarian ini.

Wanita yang melahirkan ku dari belaian kasih sayang sepertinya memang takdir di lahirkan oleh seorang perempuan, pernah aku bertanya mengapa bukan pria yang melahirkan ku ? mengapa tidak mahluk yang serupa dengan wali-laki dan betina yuang melahirkan ku ? tak tau aku jawabnanya mungkin takdir yang berkata jadi apa yang harus aku perbuat, aku tak bisa mengulang untuk kedua kalinya kelahiran ku. Karna ia aku berada di peradaban terakhir dari cerita kehidupan yang bernama dunia. Tapi tak apalah tak ku hiraukan lagi semua itu.

Satu hal yang dapat menyenangkan ku di saat aku bisa duduk dan bercakap dengan mereka yang ku rindukan jauh di pelupuk tatapan mata dan bercengkrama ramah di iringi gelak tawa canda yang tiada pernah habis dalam cerita indah semua itu tak ada di sini, ah andai wanita itu ada di sini bersama yang lain betapa senang nay hatiku. Bisa duduk menghisap udara dengan nafas yang tak tergesa seakan aku berlari dari semunya tapi itu tadak sama sekali. Aku berlari dari sisi nya bukan melarikan diri tapi menghilang untuk pertemuan yang sebenarnya tlah di janjikan.

Di satu penglihatan aku berangan tapi tak sejauh dimensi yang membelah semuanya menjadi serpihan yang tak terlihat, serta-merta seorang pria setengah baya berada dalm benakku teringat siapa dirinay yang menghidupakan ku dari keringat nya, tanagn nya seakan menjamahku dari kejauhan yang tak bisa di sebutkan berapa jaraknay dari sini, oleh karna semua itu kini terasa dalam guam sang bumi yang seakan menua seperti dirinya yang kian bertambah, terlihat dari garis mata yang menurun dan kulit yang seakan mengeriput semuanay tak bisa terjadi untuk kedua kali di sini karna aku juga akan menghilang untuk waktu yang cukup lama biar bumi menguam seperti halilintar yang datang dan menyambar setiap apa yang mendekati.


0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews