Gelap mulai mengeranyangi hari yang tidak lagi di temani sang mentari, suara burung hantu berbunyi merintih di awal malam, terlihat rembulan beranjak dari bawah tak berbentuk apapunbanya merona kekuningan. Bintangpun kini menerobos gelap, yang ada terlihat hanya sekumpulan orang yang masih sibuk berdatangan ke rumah ku, aku sedari tadi hanya duduk di ruang tengah yang sudah penuh oleh para pelayat yanga datang, terasa jelas angin malam yang menyapa lembut kulitku, tapi aku masih ingin menangis.” Maafkan galang bunda, “rintihku di samping jasad bundaku yang terbujur kaku, air mata pun sudah tak dapat ku bendung lagi. Mengalir di sela pipi seakan berpadu dengan suara isak tangis ku. “bunda bangun bunda, jangan tinggalin galang”
Lelaki yang bertubuh tinggi yang sedikit atletis itu terlihat tak kuasa menahan perpisahan ini, galang seakan menyesal pada massa lalu, “bunda galang udah datang bunda, bangun bunda galang ingin bunda mencium galang lagi bunda, bunda...bunda” jerit histeris galang kini memecah malam ia sungguh tak kuasa melihat apa yang terjadi di depan matanya, tubuh wanita itupun kini tak lagi dapata biacara hanay diam sejuta makna .
Satu pelukan mendekap sayang galang yang sedari tadi tak terkontrol kan” galang harus sabar, bunda harus di ihklas kan!, semua ini sudah ada takdirnya lang...”suara kak tony mencoba membujuk biar galang sedikit tenang,” tapi kalo seperti ini tuhan tak adil kak, mengapa bukan galang yang mati” tangis nya lagi,” galang, kalo kamu yangn mati berarti semua ini tak ada akhirnya, kamu itu laki-laki jaidharus tegar, masih ada aku kakak mu di sini” ucap kak tony sambil menyeka air mata adik yang sangat di sayanginya, sebenarnya hati kak tony begitu terpukul bahkan melebihi kekesalan hati sang adik. Tapi apa boleh buat tony sadar semua itu ada akhirnya.
“ galang ambil wudhu dulu terus sholat sana, sekalian berdo’a biar bunda tenang di alam sana “ ujar kak tony yang membimbing galang menuju ke kamar mandi, “ sholat” perlahan galang tergiang mendengar kat-kata sholat, mengingatkan ia pada masa kecil dulu masa yang penuh ceria dan bahagia.
Rintik hujan yang terus jatuh ke permukaan tanah mengingat kan galang pada memori masa kecil nya,masa di mana ia yang di di besarkan dalam kasih dan sayang orang tuanya beserta semua orang yang berada di sekelilingnya.memori yang menbawa galang kembali kenuju tanah yang ia telah lama ia tinggalkan ,bersama semua kebahagian dan kesalahan di masa lalu. dalam keheningan pikiran, terbuka lagi akan ingatan masa kecilnya
“galang lekas pergi ke surau, azan sudah berkumandang “seru bunda pada ku, aku yang asyik bermain kelereng bersama joko pun terhenti
“sebentar bunda,”ucapku seakan tak rela, tapi masih ku lakukan apa yang di perintahkan bunda ku
Seteleh aku mandi, dengan berlarian aku menuju surau ternyata sholat baru mau di mulai
Bapak ku sebagai imam, aku langsung berdiri di antara barisan paling belakang, dan Seperti biasa, kebiasaan sehabis sholat aku slalu mengaji bersama temen temen ku yang lain sampai masuk azan isya , sehabis isya aku biasa ngggak pulang ke rumah langsung tapi bermain dulu di halaman surau .
Aku sekolah di MI islamiyah mungkin ini satu-satunya madrasah di kampung kami, bapak mempunyai keinginan setamatnya ku di madrasah ia akan memasukan aku ke pondok pesantren agar aku lebih bisa memahami ilmu agama dan bisa menjadi penganti bapak sebagai imam di surau kami , maklum kampong kami berdimisili kurang orang orang yang mengerti agama , walaupun ada itu bisa di hitung pakai jari danorang-orang tersebut jarangdi surau di karnakan umur yang sudah rentah .tapi bapak kini sudah tiada, galang pun tak mengetahui bagaimana bapaknya bisa meninggalkan mereka, tapi menurut kata para tetangga bapak meniggal karna sebuah kecelakaan, ingatan itu tak jelas lagi di benak.
“galang, ngapain kamu lama-lama di kamar mandi,cepat lah nanti keburu sholat isya”terdengar suara kak tony memanggil dari luar kamar mandi, sontak suara itu menyadarkan lamunan galang tentang massa lalu, “ iya kak, sebentar lagi” suar galang terdengar sedikit parau, bergegas galang menccoba sholat di kamar bundanya, tapi tak bisa, seakan selurh tubuhnya kaku, sedah berapa lama ia tak memunaikan kewajiban yang satu ini, mungkin sudah bertahun lamanya. Walau dengan kekakuan galang mencoba mengerjakan sholat meski terbata-bata, selesai sholat galang terlihat khusuk bermunajat denganyang di atas, tak terasa air mata nya perlahan mulai jatuh di sela-sela pipi nya” ya allah hari ini aku menghadap ke padamu memohon dan meminta ke padamu, sayangi bundaku dan bapakku sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil, ya allah aku datang kepadamu denagn kelemahan ku dan seluruh dosaku ampuni aku ya allah, aku ingin kembali seperti dulu “ terdengar lembut galang melafaz kan do’a nya, kak tony yang sedari tadi melihat adik satu-satunya menangis dalam bermunajat, tak terasa ia ikut meneteskan air mata ‘ semoga kau kemblai seperti dulu “ guman kak tony dalam hati.
Galang menyadari kalao kakak nya melihati tingkahnya dari tadi, bergegas ia merapikan sajadah dan menuju ke arah kakak nay dan bersujud sambil menagis “ maafkan galang kak” suaranya lirih” galang itu tak punya dosa dek, yang penting galang sekarang mau berubah” di rangkul nya lagi adik ke sayangan nya itu.
***
Hingga hari itu, galang sedang tak kuasa menahan amarah yang tiada bisa di tahan nya, permintaan bunda agar ia pulang ke kampung halaman nya, karnasudah berapa tahun tak pulang, galang asyik dengan kehidupan di kota yang penuh hingar bingar dunia yang tiada dapat di nikmati oleh kalangan yang berada di desa, begitu juga kak tony sudah sering mengirim surat agar galang menyempatkan diri untuk pulang dan melihat kondisibunda yang selalu memikirkan nya, “ apa kata tanah kalo aku harus kembali menjadi orang kampung”pekik galang tak kuasa memikirkan kehidupan di kampung. Pasti teman-teman nya menertawakannya, apalagi shanti ah,galang tak habis pikir memikirkan semua itu, ia masih ingin hidup di kota yang penuh gemerlap,ia masih ingin menikmati suasana bebas kehidupan yang tanpa norma. Tapi bunda tiba-tiba mengirimkan surat menyuruh nya untuk pulang. Padahal saat itu galang sedang berkumpul dengan teman-temannya, menghadiri acara ulang tahun shanti sang pujaan hati nya, di tambah lagi semua yang ia ingin kan sudah ada di sana teman-teman galang yang notabene anak orang tajir biasanay sudah menyiapkan semua nya untuk menghibur kehidupan mereka, mulai dari minuman yang beralkohol tinggi yang takmungkin terbeli oleh orang kampung, shabu-shabu, daun ganja, serta apa dentuman music yang begitu keras tak lepas dari semua itu, “ ibu kota itu ngak pernah ada aturan, apalagi aturan agama sudah tak di pandang penting” pesan kak tony sebelum galang berangkat kekota. Sebenarnya tujuan galang pergi kekota tak lain untuk mencari kerja, memang bulan-bulan pertama galang bekerja ia sering mengirimkan sebagian uangnya kekampung,tapi setelah lebih kurang setengah tahun berada dikota galang tak ada kabar berita lagi,hingga bertahun-tahun. Sedang galang sekarang sudah menjadi orang kota, hidupnya hanya berhura-hura tak lepas dari barang-barang haram, di tambah lagi galang sekarang sudah menjadi pecandu narkotika, yang dulunya tak tau dengan barang yang begituan. “ngak levelloklongak pake” mungkin kayak gitu istilah anak kota metropolitan, galang tak mau kalo di katakan kurang pergaulan, jadilah galangyang takkenal sopan santun, bertindaksemau nya sendiri, dan hidup seperti ala orang kota sewajarnya.
Galang terduduk dibangku kos an nya memikirkan pesan singkat dari bunda”ananda yang bunda sayangi, ingin rasanya bunda bertemu dengan ananda, tapi kalobunda ke kota kayak nya bundasudah ngak kuat, mungkin karna umur bunda yang semakin hari semakin tua, ada kiranyakalo ananda bisa menyempatkan diri untuk bertemu bunda......” mungkin begitukurang lebih isi surat dari bundabeberapa waktu sebelum musibah ini. Galang berpikir keras bagaimana ia harus meninggalakan semua kesenangan nya di kota, akhirnya galang menambil keputusan untuk tidak kembali kekampung, yang terbanyangkan oleh galang hnaay barang-barnag yang selama ini bisa membuat dia tenang untukmenjalani hidup yang baginya tuhan itu tak adil, hingga sholat puntakpernah ia kerjakan “tit..tut...”suara hp galang berbunyi, sontak galang langsung menyambarnya dengan cepat” hallo, gimana dod, barangnya ada” tanya galang cepat, setelah mengetahui kalo yang menelfon nya dodi, teman yang sering memberinya barnag haram itu,” yups bentar lagi gua datang kesana” sepintas galang langsung mematikan hp nya dan bersiappergi menuju rumah dodi, dodi memang terbilang tajir mobil nya saja bmw wah ngak terbayang oleh galang kalo seandainya hidupnya kayak gitu. Sesampaidi rumah dodi yang begitu megah galang langsung menyambarbong yang ada di dalam kamar dodi, dodi yang sedari tadimelihat tingkah galang yang aneh jadi bertanya” lagi sakow benar lang” tanay dodisambilmeliaht galang yang sibuk membakar almunium poil”yups,dodgua lagi banyak masalah nih” jawab galang sambilmenghisapasap yang keluardri botol kedilyang di pegangnya,”maslah apa lang,sebutin dong,klaiajaguabisabantu”dodi bertanya lagi,sambilduduk di samping galang,”biasa nyokap gua nyuruh gua pulang kampung”galangmenjelaskan masalahnya pada dodi”wah kalo masalah satu ini gua ngak bisa bantu banyak lang” jawab dodi pintas, galang yang di ajak ngomong malah hanyut dalam dimensi yang tak tau di mana awal danakhir nya, bahkan ia memakai di luar dosis. Akhirnya ia terkapar tak sadarkan diri di kamar dodi, entah untuk berapa lama taksadarkan diri.
“tit...tut....” gilang tersadar hp nya berbunyi,tapi seakan malas ia mengerakakan tubuhnya,seakan tak kuasa menahan letih yangbergelantungandi tubuh nya,”yups,siapa nih”akhirnya di angkat nya jugahpyang tergeletak di meja,” ini mang udin lang” jawab sipenelfon dari sebrang sana” ada apa mang” tanay galang sekenanya,” kamu sekarang di mana, tadi mamang nyari kamu ke kosan kamu tapi kamu nya ngak ada”tanya mang udin yang ternyata tetangga galang di kampung tapi bekerja di kota juga,”saya di rumah teman mang” jawab galangpintas” lang sebaiknya kamu pulang ke kampung lang “ pinta mang udin ‘emangnya ada apa mang” tanay gilang sontak kaget tumben-tumbenan mang udin nelfon terus minta pulang, “ ini lang, keluarga mu dapat musibah, pesan kak tony mu kamu di minta pulang hari ini” dengan singkat mang udin menjawab akhirnya mang udin pamit mau pulang kampung duluan, karna dia nelpon di terminal. Pikiran galang kini berubah menjadi lautan maya yang kemudian nyata, terbayang semua massa lalunya, bunda nya , bapak nya, kak tony dan semua nya “ gua harus pulang dod” ujar nya pada dodi,” pulang ke mana lang” tanay dodi lagi,” gua siang ini harus pulang ke kampung takut ada apa-apa” jawab nay singkat sambil membenarkan pakaian nya, akhir nya dodi pun mengantarkan galang menuju terminal. Dengan melambaikan tangan dodi memberi isarat pada galang untuk hati-hati di jalan, kini perjalan menuju kampung galang dimulai dengan perlahan berjalan nya roda mobil yang di naikinya, jalanan tanpak sepi sesekali ban mobil memasuki lobang di sepanjang jalan, akhirnya setelah tujuh jam perjalanan galang sampai pada terminal akhir, ia terus menyambung naik mobil kecil untuk menuju kampung nya dibutuhkan waktu dua sampai tiga jam, karna jalannya tanah, apalagi musim hujan begini bisa butuh waktu berapa lama, rasa letih dan pegalsudah tak di raskan galang lagi, karna pikiran nya entah tertuju ke mana, sekarnag ia hanya ingin bertemu dengan bunda nya, mencium tangan bundanya, dengan kerinduan tak terhingga.
“stop di depan mang” isarat galng pad sopir mobil yang di naiki nya, glang langsung turun dan berdiri tepat di depan rumah yang kecil dan sederhana, masihseperti dulu tak banyak berubah halaman masih terlihat rapi, dulu bunda selalu membersihkan nya setiap sore , terlihat orang-orang berdatangan ke rumahny, terlihat umbul-umbul di pasang di pagar, umbul-umbul yng berwarna hijau dan di hiasi renda-renda kuning itu bertuliskan “ innalillahi wa inna ilaihi rojiun” dengan terbata galang melihat tulisan itu, tubuhnya seakan tak kuat menahan tubuhnya, tergiang wajah bunda nya yang sayang lagi kasih, yang sanjung serta puja tergiang semua itu, bergegas galang melangkah kan kakinya menuju pintu rumahnya, kak tony tampak menghampiri galang setibanya di depan pintu rumah” tenang dek” hanya itu ucapan yang keluar dari muluit kak tony, smbil di girngnya dik nya masuk ke rumah mereka, belum lah sempat galang bertanya ada apakah gerangan sebenarnya, is sudah di temukan dengansesosok tubuhyang ia kenalselama ini, tubuh wanitayang melahirkannya, dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang sekarnag terbujur kakudi depan mata kepalanya” bunda kak” rengek galang pada kak tony, “ yah lang kamu harus sabar ini sudah takdir,”hiburkak tony pada galang, galang menghampiri tubuh bundanya dibuka nya kain putih yangmenutup wajah bundanya di ciumnya berulang kali wajah yang terlihat tersenyum itu, galang tak bisa berkata apa-apa hanya tangis yang sekarang terdengar.
Pagi yang indah, langit tampak cerah, rombongan iringan yang ikut mengantarkan jenazah bunda telah sampai dipemakaman umum yang terletak di tengah kampung, tampak ramai sudah orang yang menunggu di arena pemakanam , perlahan tubuh bunda diangkat dari kerangkeng untuk kemudian di turunkan keliang lahat, aku yang berada di bawah menyambut tubuh bunaku dengan isakan air mata, kuletakkan tubuh bundaku menghadap kiblat dan ku lihat tubuh bundaku ditutupi dengan papan, perlahan tanah dimasukan sedikit demi sedikit, akhirnya menjadi gundukan tanah yang bernisan, setelah pak haji yusuf membca do’a pengelayat perlahan meninggalkan pemakaman, “ lang yuk kita pulang” kak tony mengajak galang yang sedari tadi meratap di depan batu nisan, perlahan ia berdiri dan meninggalkan gundukan tanah tempat peristirahatan terakhir sang bunda ,” maafkan galang kak” ucap galang pada kak tony waktu berjalan pulang,” semua itu sudah dimaafkan lang, sekarang kita sama- sama berdo’a biar bapak dan bunda bahagia di alamnya” nasihat kak tony kepada adiknya yang sangat di sayangi nya.
Sepuluh tahun telah berlalu, galang terlihat keringt dingin, sesekali terlihat menghapus keringat yang menetes di wajahnya, sedikit bimbangdan harap-harap cemas, kak tony masih setia mendampingi nya besama istri dan anak nya yang sudah berumur 4 tahun, ‘ santai aja lang,dzikir dan berdo’a biar anak dan istri kamu selamat” sambil tersenyum kak tony memberi masukan pada adik nya, ya sebentar lagi galangakan menjadi seorang ayah dari pernikahan nya dengan nurmala anak kepala kampung mereka. “bagaimana dok” tanya galang ketika melihat dokter keluar dari ruang bersalin” alhamdulillah, anak bapak lahir dengan sehat , istri anda selamat dan sehat” ujar dokter yang menangi istri galang. Sujud syukur tak lupa galang lakukan sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga pada allah s.w.t. yang menciptakan dan mematikan.
Suara azan di kumandangkan di telinga anaknya
Berikan kekuatan pada kami, Ya Allah! agar kami dapat menjaga amanah berharga yang kau titipkan pada kami ini.
Kudekap lembut, ku belai mesra wajah anakku, kukecup kulit nya yang halus lagi bersih.
Ya Rahman, ya Rahim malikul kudusslam muhaimin azijul jabbar mutha khabir subhanaulalh la illa hailla anta ya roball alamin !
Karuniakan aku dengan cinta darimu agar aku dapat mencintai anak ini dengan terbuka dan bersahabat, dan anakku mencintaiku dengan terbuka danbersahabat pula. Agar kami saling memahami satu dengan yang lain, saling percaya satu sama lain dan saling menghargai satu sama lain. Anugerahkan pada kami keberanian untuk saling jujur, tidak malu dan ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di hati kami, baik itu cinta, sayang, kesal, marah, apapun. Biasakan kami untuk mau mengkomunikasikan segala hal dan yakin bahwa Engkau telah menyatukan hati-hati kami dengan cinta dariMu, tanpa lekang di makan usia. Dengan cinta yang bersahaja saja ya Allah. Karena cinta kami yang hakiki, hanya untukMu.
Robana atina fi dunya khasanah wafil akhiroti khasanah wa kina adza ban nar amin...........
Cairo29 07a.2008














6:44:00 PM
Muhammad Abdillah Asmara


0 comments:
Posting Komentar