Bangsa Koe--->>

Photobucket

Pages

5 Jun 2009

Hari yang terlupa

Matahari mulai hilang dari peredaran nya,suara azan magrib pun baru selesai di kumandangkan ,seperti biasa aku memaksakan diri beranjak dari tempat tidurku,setelah membersihkan muka dan minum kopi sisa dari tadi pagi,aku mulai menuju terminal tempat di mana biasa aku bekerja sebagai penjaga teminal

"dari mana aja lo dung …."dari kejahuan suara kang kiok memanggilku.

" dari neraka kang " jawabku sekenanya.

"emangnya kalo udah masuk neraka dapat balik lagi ha…..ha…"serentak semua yang ada di situ tertawa mendengar guyonan kang kiok .

"kok kamu kayaknya lesu ,sakit ",'kalo sakit nggak perlu jaga "timpal beliau lagi.

"nggak kang Cuma capek baru bangun tidur "jawabku ,aku yang sedari tadi berdiri duduk di bangku terminal ikut nimbrung bersama mereka,

"kok kayaknya hidup kita selalu begini terus yah kang ..,kapan yah hidup kita bisa berubah "keluh ku.

"memang begini hidup yang kita jalani dung, karna kita yang milih hidup kayak begini tul nggak .."nasehat kang kiok menghiburku ,.

Angin malam yang bertiup dengan perlahan selalu menemani kami di sepanjang malam anak-anak yang lain asyik dengan kerjanya masing-masing ada yang bergitar, berjudi, mabuk-mabukan yah mungkin beginilah kehidupan di terminal ,

"di mana kang kiok "ucap adi yang datang dengan tergesa-gesa

"ada apa di…."timpal kang kiok.

"celaka kang ,celaka …"

"iya !, apanya yang celaka "tanya ku dengan menyelidik.

"sebentar lagi kang wedi, sama bang wili mo datang ke sini dengan pasukan nya , kang.".

"yah sudah nggak apa-apa, kirain ada masalah aja"dengan tenang kang kiok menjawab.

"itu dia masalahnya kang, Mustafa dan konco-konconya mau ambil daerah kita dari terminal ini sampai km.3 ".

" yang benar saja kamu ini di" potong kang kiok "benar kang saya kesini karna di suruh ama bang wili,

supaya akang dan semua siap-siap, khabarnya mungkin malam ini mereka nyerang ke mari kang "adi menjelaskan lagi masalah yang sebenarnya .

Jam menunjukan pukul sepuluh malam kang wedi dan bang wili datang dengan menbawa dua bis anak buah mereka siap dengan senjata mulai dari pedang, besi, pisau dan lain-lain, kamipun tak kalah saing dengan mereka, aku sedari tadi mencari alat yang bisa di gunakan untuk memukul tersentak ketika kang kiok memanggil ku

"dung sini ","ini badik ntar kalo ada apa –apa kamu lari saja jangan ikut-ikutan

"kakang jadi bawa apa "potong ku ,"kakang bawa ini "ujar kang kiok sambil mengeluarkan sebilah samurai yang panjangnya kira-kira satu meteran,"ya kang "jawabku lembut,seketika itu juga terminal itu sepi senyap,kami semua berpencar agar dapat mengalah kan musuh, dengan cara mengepung mereka, saat pasukan Mustafa datang , kang wedi langsung memberi aba-aba "serang ……..maju"

Malam terus berjalan bersama ribuan gugusan bintang,bulan purnamapun ikut memjadi saksi pertumpahan darah itu, kesepian pun hilang berubah menjadi hingarnya suara pedang yang beradu satu sama lain semuanya seakan sudah mati rasa.

"ah…..kang tolong "aku pun tak dapat mengelakan lagi sabetan pedang lawan yang menebas paha kanan ku "tolong kang ........,tolong........", akhirnya aku di selamat kan kang kiok dan di letakkan nya di tumpukan sampah terminal, pandangan mataku kabur, mulutku seseakan tak dapat bicara sepatah katapun sepi , kosong.

"dung.dung ..bangun dung ."sayu-sayu ku dengar suara itu memangggil ku, perlahan ku buka kelopak mataku, ku lihat di sekelilingku sudah banyak orang mengelilingiku, aku ingin berdiri dari tidurku, tersentak aku terperanjat

"kaki ku mengapa kaki ku ....."rintih ku.

"sabar dung sabar...."ujar wawang sambil menahan tubuh ku yang mau beranjak dari tempat tidur ku,

"kenapa kaki ku wang?"tangisku ,tak lama berselang kang wedi menghampiri ku "jangan terlalu banyak bergerak dulu dung",

"kaki mu patah karna sabetan semalam "ketus nya lagi "jadi bagai mana kang "keluh ku.

"nggak apa-apa kaki mu sudah di sambung oleh mbah warsono,katanya dua tiga hari lagi kamu udah bisa berjalan lagi "jelas bang wili.

"terminal kita bang "aku teringat tempat aku bersandar hidup selama ini,

"terminal masih tetap milik kamu dung "suara rian terdengar angkat bicara di antara kroco-kroco yang datang

"orang-orang kita bagai mana jim "tanya ku pada jimi, jimi yang sedari tadi diam lang sung bicacra"semuanya nggak apa-apa Cuma luka ringan

Kamu sendiri yang parah "jimi berujar polos,

"kang kiok mana jim"tanya ku ,"beliau lagi di terminal biasa di introgasi polisi "jimi menjelaskan kan padaku, tubuhku seakan letih sekali bahkan belum pernah aku merasakan letih seperti ini, mataku perlahan terpejam lagi .

"dung bangun dung "suara itu membangun kan aku dari tidur, suara yang khas masih dengan logat jawa yang kental, yang menjadi panutanku semenjak aku di tinggal mati orang tua ku, kini hanya beliau yang aku punya di dunia ini .

"udah jam berapa kang "tanyaku sambil mengusap kedua mata ku

"jam satu "jawabnya dengan santai

"ini dung makan dulu "sembari menyodorkan nasi bungkus pada ku

"dung ,sudah berapa tahun kamu ikut kakang "tanya nya "sepuluh tahun kang "tukas ku sekenanya sambil memasukan suap demi suap nasi bungkus yang ada di tangan ku

"kamu masih terlalu kecil dung masuk dunia ini,"suara yang selama ini banyak di takuti perlahan berubah samar

"dung hidup itu bagai aliran air, dan setiap air yang mengalir akan berhenti di dua muara dan di sana kita yang kita yang harus memilih hidup yang ingin kita jalani ,"sebentar suara itu berhenti berucap

"sekarang kamu sudah tahu resiko hidup di jalanan ,kakang ingin kamu jadi orang baik saja,"sambung nya lagi dengan mata yang berkaca-kaca ,

"bulan depan kamu kakang masukan di pondok ya le "sambil mengusap kan tangan di kepala ku

"tapi kang .."bantah ku ,"nggak ada tapi-tapian lagi ini keputusan kakang "tegasnya "apa kamu bisa menjamin besok lusa kamu masih bisa melihat matahari terbit , masih untung kaki mu yang patah, coba kalo lehermu ayo mbok mikir dung ..mikir "jelasnya lagi

"iya kang ..iya "dari pada baliau marah lebih baik nurut saja,

malam terus beranjak naik ke permukaan mata ku menerawang dalam kesepian mengkhayal tentang masa depan .

Hari masih sore aku duduk di beranda rumah menghisap rokok dan minum kopi sambil merenungi perkataan kang kiok beberapa hari silam,

namun tiba-tiba terdengar seseorang bicara dari kejauhan.

"di terminal ada orang di bunuh "ketus seorang ibu-ibu pada tetangany.

"siapa yah kira-kira "tanya si tetangga.

"katanya sih tukang ojek, karna ribut di tempat orgen tungal "ibu tadi menerangkan kejadiannya , aku langsung bergegas menuju terminal setelah mendengar penjelasan ibu-ibu tadi, tersentak aku tak berdaya ketika melihat jasad yang tergeletak di belakang terminal itu, bukan tukang ojek tak lain melain kan seorang yang selama ini aku kenal yah kang kiok tewas terbujur dengan sembilan lobang luka tusukan di sekujur tubuh nya aku berdiri kaku tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat tubuh kusam itu di angkat ke atas mobil ambulan dan pergi begitu saja, tulang kaki ku seakan tak kuat lagi memopong tubuh ini pandangan ku suram dan akhirnya tergeletak di tempat kejadian itu

"kang .kang kiok "jerit ku setelah sadar dari pingsan

"mana kang kiok,kang kiok "tangis ku tak henti

"sabar dung kakang mu nggak mau lihat kamu menangis seperti ini "pak Rt menenangkan aku

"di mana kang kiok pak "tanyaku ,

"kakang mu sudah di kebumikan siang tadi.kami tak bisa menunda menguburkan nya karna darah terus keluar dari tubuhnya"pak RT menjelaskan lagi perkara yang sebenarnya, sekarang kita hanya bisa berdo'a agar arwah kakang mu tenang di alam sana, pelaku nya sudah di tangan pihak yang berwajib kamu harus sabar dung "beliau memelukku .

Angin pagi ini bertiup syahdu bersama jatuhnya butiran embun yang menetes di dedaunan, kokok ayam jantan yang bersautan membawa aku menuju kehidupan yang pernah di dambakan seorang kakak untuk ku dan mengubur dalam-dalam kehidupan kelam yang selama ini ku jalani,

Tak terasa sepuluh tahun tlah berlalu kini aku baru menyadari arti kehidupan yang sebenarnya, dan tak kan ku ulangi semua kesalahan di masa lalu ku, andai engkau bisa melihat aku sekarang , pasti kau akan bangga akan saudaramu ini kang,

"abi ,di panggil umi "tiba-tiba suara itu membuyarkan lamunan ku, kini aku mempunyai seorang anak dari pernikahan ku dengan aminah anak pak RT dan akan ku jaga amanah allah ini kang,semoga engkau tenang dalam kedamaian di alam sana, akan selalu kuhaturkan do'a di setiap sujud panjangku, bersama tasbih, tahmid, tahlil, dan dzikir ku untuk mu dan teruntuk keluarga tercinta.

To:teruntuk almarhum yang mengajarkan tentang hakikat kehidupan yang sebenarnya, semoga amal ibadah nya di terima di sisinya amin...........dan teruntuk keluarga tercintaku.



0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews