Hari di mana yang ada hanya diam dalam bisu, tak ada yang bicara dalam kehingaran yang hanay diam , sepasanag mata terlihat tajam menatap pasat, seperti binatang buas yang siap menerkam mangsa dengan sigap, ah menakutkan sekali rona mata itu seakan tak bersahabat. Terbayang yang harus di ucapkan biar mata itu bisa mengerti dan menjadi bersahabat. Muslimah yang sedari tadi di tatap oleh mata itu sedikit ngak leluasa bergerak, seakan takut salah gerak dan membuat mata itu langsung menerkan nya ih... takut pikir muslimah dalam hati, dalam berdiri ia terpikir apa yang bisa terjadi atas dirinya,
“ pemerkosaan, pembunuhan, atau mutilasi, ih,,........” pikir nya menerawang seperti berita yang sering terlihat dalam tanyangan televisi, betapa tidak belakang ini sering terjadi kejahatan yang menimpa kaum hawa, sesekali muslimah melirik jam yang ada di tangan nya,
“ jam 1 malam” decak nya kaget, sedari tadi muslimah berdiri di halte bus, untuk pulang ke kos- kosan nya, mana di tambah angin malam yang kurang bersahabat kini mulai membuat bulku roma nya merinding, tak terbanyangkan apa yang aklan terjadi seandainya, seandainya ah ... muslimah tak kuasa memikirkan itu, dengan sigap ia membuka tak kecil yang di apit nya dengan tangan dan duduk perlahan di kursi halte sambil membuka lembar perlembar mushaf yang di bawahnya setiap perjalanan keluar dari rumah.
“ bismillah hi rohman ni rohim....” suara yang merdu seakan tak melafas itu mulai dengan khusuk membaca setiap ayat yang ada, sesekali ia melirik wajah yang sedari tadi memandangi nya dari kejauhan sekitar seratus meter dari tempatnya duduk.
“perumnas....perumnas...” terdengar dari jarak yang tak terlalu jauh suara kondektur meneriakkan tujuan mobil nya, muslimah bergegas berdiri dan menutup mushaf nya, wajah itu mendekat, sekarnag muslimah tambah ketakutan pria itu juga naik mobil yang sama dengan muslimah, yang lebih membuat fatimah tambah takut ialah ketika ia menyadari bahwa laki-laki itu duduk tepat di samping muslimah.
“ mati aku .....” hanya kalimat yang muslimah ucapkan di dalam hati nya . sudah beberapa hario terakir ia seakan di ikuti oelh pria itu jadi wajar kan kalo ia berprasangka demikian.
Udara malam yang sangat menusuk tubuh seperti bersahabat, suara jangkrik terdengar , yah begini lah kehidupan muslimah sepanjang hari nya, keluar dari rumah jam 5.30 pagi berangkat mengajar di sekolah dasar yang tak terlalu jauh dari kos-kosannya, siangnya ia bekerja sebagai staf pengajar di salah satu kursus bahsa asing, dan sore nya ia kuliah mengambil jam malam di salah satu universitas terkemuka di kota itu, sebenarnya ia ingin mengambil jam pagi tapi , terlalu sibuk nantinya ,karna ia harus mengais rizki untuk kebutuhan hidup nya di kota. sejak beberapa tahun ini ia tak pernah meminta uang bulanan dari desa, karna muslimah merasa sudah telalu banyak ia menyusahkan orang tua nya sampai ia bisa seperti ini malah sesekali ia mengirim kan uang untuk orang tua nya, di tambah lagi semenjak ayahanda meninggal dunia di karna
kan sakit yang komplikasi, mak lah orang yang menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupkan 4 saudaranya yang lain sedang kan ia hanya bisa bantu dikit2 dikit. Sekarang muslimah terpikir lagi denagn laki-laki yang berada di samping nya itu, sedari tadi komat- kamit kecil tanpa bersuara, sesekali ia juga melirik pada muslimah, muslimah yang di pandangi jadi tambah takut, kalo lihat dari potongannya sih bukan orang baik-baik, celanay bolong-bolong banyak tambalan disana sini, baju yang di paki pun kusam seperti pemulung, wajahnya yang kusam dengan sedikit jenggot yang ada di dagunya itu membuat orang yang melihat nay takut apalagi untuk menyapa.
“ kiri depan pak” suara muslimah memberi tanda ia akan stop. Perlahan pria itu berdiri dan menuju pintu depan bus, yang membuat muslimah tambah takut kala pria itu juga turun besama dengan nya, banyak tanyadalam hati nya, sebelumnya ia tak mengenal pria itu, seakan ia mau berteriak
“ copet, maling ....” mungkin begitu ingin nya, tapi sejenak ia melirik ke tubuh pria yang di lihatnya menyebrang jalan menuju mushola tepat di depan kos-kosan nya ia terkegum sesaat
“ astarfirullah ......” ucap nya lirih mungkin ia salah sangka terhadap orang itu\, tapi ia tak habis pikir siapa orang itu.
Begegas muslimah memasuki kos nya, sebelum ia tebaring, ia sempat memikir kan siapa kah gerangan pria yang tak ia kenal itu, kurang lebih setengah jam ia terlelap munuju dunia yang tanpa cerita, dunia yang melesat bersama ruh yang meninggal kan tubuhnay untuk sesaat, tempat semua orang berbahagia di sana, syukur nikmat untuk siapa saja yang bisa terlelap.
“ as shola tu khorium minan naum.........” suara adzan itu membangun kan muslimah dari tidur nya, di lirik nya jam weker yang tergeletak di atas meja computernya, jam lima shubuh, dengan langkah yang sedikit berrat ia menuju kamar mandi mengambil wudhu dan bersiap ke mushola, sekali lagi ia bertanya
” siapakah yang adzan begitu merintih ini “ bertanya muslimah pada hatinya, tak biasanya ada orang bersuara begitu indah dan menyayat sanubari yang mendengarnya seperti kehilangan orang yang ia cintai, muslimah segera menyebrang jalan yang memisahkan antara kos an nya dengan mushola, betapa terkejut nya ia kala ia mamasuki tempat bersembahyang itu, seorang laki- laki yangf ia takuti selama ini ternyata aa di sana duduk bersial dan mata terpejam sambil mulut nya tetap komat-kamit, muslimah tak begitu menghiraukan nya, ia segera menuju tabir yang memisahkan antara ma’mun wanita dan pria, ternyata sudaha ada ibu rt, dan kak mira yang lagi membaca quran,
“ assalamualaikum...” ucap muslimah dengan lembut,
“ waalaikum salam ....” kompak terdengar jawaban dari ibu rt dan kak mirah,
“ sehat mus...” tanya kak mirah lagi,
” hamdulillah kak sehat” jawab muslimah sambil membentangkan sajadah nya, setelah beberapa menit muslimah duduk terdengar suara iqomah tanda sholat berjama ah akan di mulai. , semua berdiri khusuk dalam diri, memulai pengakuan sebagai hamba yang tak lepas dari salah dan dosa, bersahajah dan tiada yang membedakan semau orang untuk masalah satu ini,
“ bismillah .....” bibir muslimah memulai semua itu.
Pagi yang indah bersahabat, dan menyegarkan siapa saja yang menghirup dalam udara yang ada di mnaa saja tak terkecuali di kota yang hingar sekalipun. Muslimah dari tadi sibuk membenarkan tat letak jilbab nya yang sedikit agak sembrautan, di depan kaca cermin. Usai membenarkan letak jilbabnya muslimah mengambil tas kecil yang selalu menemaninya di mana pun dan kapanpun ia berada dan di sambar nya dengan cepat rentetan buku yang siap untuk di pikul nya hingga menuju kampus, beginalah kehidupan muslimah di tambah buku yang harus ia bawa ke sekolah dan tempat kerja betapa letih nya ia, tapi apa boleh di baut semua itu menjadi bulat mungkin itulah kata pepatah yang tepat buat semua itu. Dengan langkah santai dan senyum yang merekah muslimah berjal;an menuju halte yang tak jauh dari tempat tinggal untuk menjaga buss yang menuju ke tempat kerja kerja nya, betapa tekejut nya muslimaha kala melihat ke arah halte yang jarknya beberapa meter dari pandangan matanya, seorang pria yang selama ini membuatnya bertanya keras itu kini sudah ada di halte yang kini bukan dengan dengan tamp[ang nya yang kumal dan kusam, melainkan dengan stelan yang cukup di bilang necis rambut ang tetata rapi, baju kemeja yang di bunakan berwarna putih cocok sekali dengan stelan celana yang hiam di tambah sepatu kulit seperti orang kantoran,
“ assala mualaikum.....” sapa lelaki yang tak di ketahui namanya itu menyapa muslimah yang berdiri di dekat tiang halte,
“ wa ...alaikum salam” jawab muslimah singkat.
” Muslimah.....” tanya pria itu sekali lagi, kini ia semakin mendekat ke arah muslimah, muslimah yang di pelototi dan di hampiri semakin ketakutan bukan kepalang, ingin rasanya ia melempar semua buku yang ada di tanganya, dilahat nya pria itu sekali lagi dengan seksama, tak mungkin bila pria itu ingin berbuat jahat terhadap dirinya.
“ ya ....kalo bolpeh tau mas siapa yah ...” dengan nada lembut muslimah menjawab dan kembali betanya,
“ subhanuallah yah muslimah sekarang, udah beda dari muslimah yang dulu” jawabnya sambil tersenyum lebar, muslimah semakin bingung bukan kepalang, orang ini selain tak di kenal nya juga sok tau pikir muslimah,
“ emang nya ada yang berubah dari saya “ tanya muslimah lagi dengan nada yang sedikit naik,
“ iya mus, massa kamu itu dah lupa ma aku, kayak nya kamu takut sekali setiap aku mengikuti kamu “ ” aku ini teman kamu masih ingat nggak” pria itu seakan semakin mendekat pada muslimah, jantung wanita ini seakan ingin copot,
“ nggak emang nya kamu ini siapa’ kini suara yang keluar tak lagi enak di dengar hampir saja semua orang yang ada di halte melihat tapi segera di tahannya,
“ masya allah mus... ini aku, abday teman kamu waktu kecil” suara itu kini terlihat sedikit tertawa melihat tingkah muslimah yang rada aneh seperti orang ketemu dengan mahluk halus.
” Abday.” Suara wanita itu kini tertahan,
“ iya ini aku mus, abday masih ingat ngak ?” tanya pria yang ternyata bernama abday itu,
“ iya aku, masih ingat!!,” jawab pria itu singkat.
“abday yang dulu sering berantem karna aku kan “ sontak suara muslimah naik tinggi, seakan menerawang waktu yang panjang dari jangakaun mata sekalipun, muslimah baru menyadari bahawa yang berdiri di hadapan nya kini abday yang dahulu nya nakal, urakan , tapi baik hati kalo sama muslimah , abdaya yang selalu berkelahi kalo ada yang mendekati muslimah atau yang menganggu nya, atau yang maenin muslimah.
“ abday kok kamu ngikutioin aku terus sih, napa ngak ngomong aja langsung “ spontan seutas senyum kini keluar dari bibir gadis yang ayu itu, wanita itu kini berdiri dalam diam, banyak perasaan yang tak bisa di ucapkan oleh kata baik itu dalam kalimat atau gerak, betapa tidak pria yang mengikutinya selama ini tak lain adalah abday, ya abday, yang selalu membelanya kala ia di maenin oleh teman-teman nya di massa kecl dulu, pernah suatu hari abday masuk rumah sakit gara-gara berkelahi sama udin yang nakal nya minta ampun dulu waktu di smp, pasalnya udin ngejek muslimah trus muslimah nangis, bila ingat massa itu muslimah menyunggingkan senyuman nya yang lebar dan indah juga untuk di pandang mata.
“ kamu kemana aja day” tanya muslimah pada abday,
“ setamat smp aku berangkat ke kota sama keluarga besar, terus pindah lagi ke luar negri papa ku di tugaskan di sana “ jelas abday pada muslimah yang sadari tadi tersenyum ramah,
“ tit...tut.....” suara hp musimah berbunyi untuk sekian kalinya, sebenarnya dari tadi hp nya berbunyi tapi tak di angkat nya, karna keasyikan ngobrol sama abday,
” muslimah, kamu sakit ya.... yah udah kalo gitu ngak usah berangkat dulu hari ini” terdengar suara dari ujung telpon seluler itu,
” ma kasih ya bu’ wati” jawab muslimah sambil cengar-cengir sendiri,
“ ada apa mus....kok senyam senyum sendiri ” kini suara pria itu bersahabat sangat dekat di telinga muslimah,
“ ngak tadi aku di bolehin libur oleh sekolah tempat aku ngajar” sambil terkekeh muslimah menjawab pertanyaan abday, abday yang sedari tadi rada kurang ngerti apa maksud dari itu semua, makanya ia mengambil inisiatif untuk ngajak muslimah berjalan sejenak menyapa mentari pagi hari yang indah. Sambil mengulang massa lalu yang terlupa namun selalu di ingat baik itu muslimah atau abday sendiri, semua yang di lakuakn abday selama beberapa bulan terakhir tak lain adalah melihat kehidupan muslimah sekarang, kerinduan itu ia pendam sedemikian rupa dalam hari dan waktu yang tak pernah berbicara pada nya dan pada semua, dan saat ini hanya keriaan yang tak bisa di ucapkan dan rasa bahagia meluap seperti jalan yang membawa mereka pada hari yang indah dalam hari-hari yang akan dan sudah di lalui
Kala kelabu itu menyibak semua yang ada di antara bening dan kabut putih, putik anggrek itupn kini tak bisa di pungkiri lagi keindahan nya, karna terlihat indah, berjajar begitu banyak aneka warna dan rupa. Sebuah mobil yang berjalan santai di kedinginan pegunungan dempo yang indah, terlihat juga ribuan kebun teh yang menghijau memanggil pernghayat alam dan kebesaran yang memberi rasa itu, abday yang sedari kemarin menyopir mobilnya dari luar kota cukup membuat nya capek, tapi karna yang akan mereka tuju tak lain adalah kampung halaman mereka berdua yang sudah lama di tinggal kan semua rasa itu hilang seketika,
“ bunda bentar lagi kita sampe” suara yang lembut dengan belaian yang mesra membelai jilbab muslimah yang sedari tadi tidur di samping sang suami.
“ iya yah.....dah samapi yah” tanya nya sambil mengusap bola mata yang terlihat merah karna baru bangun dari tidur sepanjang perjalanan, mutiara hati kini ada dan jelas terpaut dalam helaian sutra yang indah dan bercengkrama dalam kesatuan yang abadi seperti syair-syair indah yang terlantun dalam dzikir keduanya, untuk yang maha memberi dan memiliki sepanjang hari ini adalah hari ku dan semua orang berhak mengucapkan itu karna hari kemarin bukan punya siapa-siapa, sebuah senyuman tersungging kala muslimah mendekatkan wajah nya pada suaminya, sebuah ciuman sayang mendarat di kening atas wanita itu
“ini tanda cinta kita pada yang kuasa bunda” abday berucap pada istri nya,
“ semoga cinta kita juga untuk nya yah” suara sendu itu tampak membenarkan jilbab nya yang sedikit tak teratur dengan kaca spion di depan nya.. perjalan ini masih panjang jika di lihat sekedar menatap itu tak salah jika kita jalani ia terasa singkat, haru biru kini bercampur dalam pesta lantunan hati yang seakan tak pernah mau berhenti tuk bernada dalam syair kehidupan, karna hari kemarin itu milik hari ini dan hari esok adalah hari ini hanay hari ini bukan, dan hari ini terasa sangat singkat.
To: kenangan tak berujung dalam khayal karna ku kenang tapi tak ku ingatJ














6:49:00 PM
Muhammad Abdillah Asmara


0 comments:
Posting Komentar