Seperti halnya mereka yang tak tau dengan keagunganmu atau yang tak pernah tau sama sekali, hamaparan katulistiwa terbentang dengan izinmu begitu juga nafas yang terhembus karna kebesaaranmu smoga aku bisa lebih memahami tentang hakikatku sebagai hamba dan dirimu sebagai tuhanku yang sebenarnya. Agar setiap langkahku tak salah dalm menapaki dan melewati jalan yang ku jalani sekarang atau nanti.
Kini aku sudah melewati jalan dimana semua penghuninya tak bisa bicara bosan aku menatap mereka ah,,biarlah yang penting sekarang aku tak lagi ada di antara orang-orang yang membuatku bertanya. Aku sejenak duduk dan minum dari bekal yang ku bawa dan air yang ku dapat dari lobang tanah yang mengelluarkan air walau terlihat keruh seakan baru kemarin aku berjalan tapi seperti sudah bertahun atau mungkin sudah berabad, ku lihat pepohonan yang menghijau menemani perjalanan yang ku lalui seperti harus berhenti sejenak untuk melepaskan lelah dari lengkuh jiwa sejenak aku istirahat dari kepenatan ku tak lama berselang datang hampiri aku seorang yang berpakian setengah sempurna berhenti tepat di hadapan mata bertanya” adakah jalan yang lebih baik untuk aku tempui dari kehidupan yang sudah habis dari sisa waktu yang tersisa, atau adakah simpang yang bisa membuatku cepat sampai tujuan ?”setelah berkata lama ia menatapku tajam seakan bertanya atau ia sedangmenanti jawaban dari diriku.belum usai pikiran ku menerawang jauh ku dengar suara yang sudah memang sedikit serak di ujung tenggorokan itu parau”tak pernah aku belajar dari hidup karna hidup adalah guru dari belajar itu sendiri, apa kah kau sama seperti ku” kini ia jelas minta jawaban dari diriku “ kurasa tidak “ jawabku sekenanya
“Mengapa bisa begitu”tanyanya menyelidik,”karna aku belajar dari sang guru yang bijak dan berakal, tak seperti semua orang yang beranggapan kehidupan adalah guru tidaklah sama dan memang tak memiliki kesamaan darinya. Guru bertekad mengajarkan bukan untuk menjalaninya saja karnan mungkin guru itu tiada dan hanya orang yang teringat dengan ilmu yang ia ajarkan semasa hidup dapat mengajarkan lagi pada penerus setelahnya, tak salahkan bila aku berkata”kurasa tidak” tadi wahai orang yang tak pernah ku ketahui darimana dan akan kemana kau menjalani hidup tanpa ada pengajaran dan belajar.kepalnay tertunduk seakan menahan sesuatu tak terlihat dari rias wajahnya yang tak pernah terlihat hanya sedikit bagian bawah wajahnya yang terlihat, kemudian tanpa kata ia pergi dan berdendang. Menendangkan syair dari tanah yang berujung atau tak pernah berujung, walau aku tak pasat dalam mendengar syairnya mungkin aku bisa membacakan apa yang ku ingat untuk penghibur selama di perjalanan berikutnya,
“biarkan tanah berbunyi
Lihat saja air yang muntah
Dan rasakan udara mengalir
Bukan cahaya hanya kata
Tak ada perih karna tawa
Lihat dan nyatakan dari jiwa
Dan semua akan terlihat indah
Wahai raga yang bersukma
Bersyukurlah untuk udara
Bertasbih lah pada tanah
Tawadu akan cahaya
Karna sang guru mengajarkan
Tentang maklumat hidup














6:17:00 AM
Muhammad Abdillah Asmara


0 comments:
Posting Komentar