Bangsa Koe--->>

Photobucket

Pages

5 Jun 2009

TANYAKU TEMAN



“pak, kalo boleh apa nama tempat ini?” tanyaku pada bapak tua yang sedari tadi duduk dihadapanku.

“jangan tanya padaku!jawabnya dengan nada yang agak kasar padaku sambil memalingkan muka

:maaf, pak! Sambungku seraya menjauh darinya.

Nanya saja gak boleh, emangnya dia itu siapa? Gerutuku sambil memutarkan pandanganku sambil mencari tempat-tempat yang aku kenal.

“aku sekarang ada dimana ya kok bisa berada ditempat yang aku gak kenal sedikitpun”, ujarku sambil mengerutkan kening yang sudah dibasahi oleh keringat siang itu, kenapa semua orang disini pada cuek semua, apakah mereka tidak saling kenal?atau tempat ini bukan untuk ngobrol kali yee?atau.....udah ah dari pada aku mikirin yang gak pasti lebih baik aku berjalan sambil mencari makanan untuk mengganjal perut yang sudah berapa hari nggak diisi. “ oh ya, sudah berapa hari aku berada disini, aku kembali berfikir mencoba mengingat-ingat my resent dokument!iya...iya...aku ingat aku pake’ baju ini ketika bim-bel diKEMASS kemaren berarti hari senin, sekarang sudah hari apa ya? Mata dan seluruh organ tubuhku kembali mencari celah-celah ingatan, sambil menatap baju yang mulai kental dengan keringat ”sebaiknya aku bertanya lagi” ujarku.

“buk, hadrotik, sekarang hari apa ya?kucoba bertanya kepada nenek tua yang duduk dikursi yang ada diujung taman dengan pakaian serba hitam dengan motif yang sangat aneh dipandang.

“dengan menggeleng kepala tanpa suara, nenek tadi memberi isyarat padaku”.

“ada apa dengan tempat ini ya!” cetus ku dalam hati sambil mataku menerawang mengelilingi dunia yang bisa aku pandang untuk mencari sebuah jalan keluar dari tempat yang tak bertuan.

Kali kecilku yang sudah lelah masih saja ku paksakan berjalan entah kemana, semoga saja aku menemukan tempat bertanya, akhirnya mataku yang mulai pedihpun berakhir pada sebuah bukit yang cukup tinggi yang dihiasi oleh pohon-pohon mati.

“sebaiknya ku kesana agar aku bisa melihat tempat ini dari atas” ujarku dalam hati dengan tekad yang kuat seraya mulai melangkahkan kakiku “ Bismillah...Ya Allah...kalau ini ujian yang kau berikan kepadaku tolong berikan aku kekuatan, dan semoga ini jalan yang benar!”, do’a ku pada tuhan semesta alam, semoga Dia mengabulkannya.

Hatiku mulai merasa aneh ketika aku sadari kalau malam tidak pernah menghampiriku selama disini, ditambah lagi dengan betambahnya aku melangkahkan kaki aku merasakan bau buntang manusia[1] yang mengelilingiku semakin nyengat menusuk hidung.

“udah ah, sebaiknya aku beristrahat sebantar untuk kemudian meneruskan perjalanan lagi” manjaku pada tubuh yang dari dari semenjak aku disini belum pernah istirahat, perut belum terisi apapun, padahal waktu aku bimbel tadi aku bawa uang 50 pound, Hpku pun dibawa, apa mungkin tertinggal ya!atau...belum selesai aku berenung aku dikagetkan oleh oleh nenek tua yang berjalan ke arahku dengan memakai tongkat sambil tangannya melambai ke arahku seraya berkata

”sebaiknya kau pergi sebelum kau menyesal, nak!”ucapnya dengan nada yang sangat lemah.

“tapi nek, aku harus pergi kemana?karena ketika aku melangkahkan kaki kedepan aku merasakan bau yang busuk yang menusuk hidung, ditambah lagi tubuhku sudah tidak mendukung lagi untuk meneruskan perjalanan saat ini” tanyaku sambil meminta belas kasihan padanya.

“pergilah ketempat yang ingin kau tuju” jawabnya singkat sambil berpaling dariku.

“tunggu nek, nenek tahu dari mana kalo aku tersesat?”tanyaku lagi padanya dengan membawa berjuta penasaran.

Nenek tadi hanya tersenyum kecil, kemudian terus meninggalkanku sendiri dalam kebingungan yang panjang, yang pada akhirnya hilang dari pandanganku.

“aku harus pergi menuju bukit itu”, ku kuatkan ikatan bajuku yang ku ikat untuk melindungi hidung dari bau buntang, tak lupa ku patahkan ranting kering untuk membantuku meneruskan perjalanan hari ini.

# # #

“alhamdulillah akhirnya aku sampai juga, setelah melewati bangkai-bangkai hewan, batu-batu terjal dan sesekali jurang yang curam yang membuatku harus siaga seiap saat. Ku pandangi sekelilingku dengan mengawasi setiap penjuru hingga mataku berakhir pada sebuah taman indah yang dihiasi dengan bunga-bunga cantik, buah-buahan, dan kulihat ditengah-tengahnya ada sebuah sungai yang mengalir deras untuk kehidupan dan ketika ku cermati ada banyak orang disana.

“cihuy...akhirnya aku menemukan kehidupan” ucapku dengan gembira sambil mengusap keringat yang dari tadi mengalir dari kepalaku, kualihkan mataku kebelakang menatap kembali tempat yang kulalui tadi, kumuh, jorok, dan tak bertuan itu berbeda jauh nian[2] dengan tempat yang ada dihadapanku.

Kuturuni bukit sesegera mungkin untuk sampai pada taman yang indah itu, bau buntang yang dari tadi tercium kini sudah menghilang, panas matahari sudah mulai mengurang, jalan-jalanpun sudah tidak sejelek yang aku lalui tadi waktu mendaki. Kiri-kanan kulihat pohon-pohon tinggi tumbuh dengan subur menghiasi perjalananku, baju yang sudah kotor dari tadi kupakai kembali untuk siap-siap memasuki kawasan yang kuharapkan.

“rupanya taman itu mempunyai pagar yang sangat tinggi, dimana pintu masuknya ya?” tanyaku dalam hati sambil menyusuri mengelilingi taman itu sambil sesekali melihat keindahannya didalam, aku terperanjat ketika aku lihat ada najib didalam teman se-angkatanku dari tanah air yang kerjanya selama ini hanya dimasjid kok sekarang lagi menghabiskan hari ditaman, apa mungkin dia ikut rihlah ya?

“Najiiiiiib, Najiiiib!” panggilku sekuat tenaga. Najib yang lagi makan buah-buahan itu menatapku sambil melemparkan senyum seraya berkata tanpa nada.

“kau tu ngomong apo?tanyaku penuh penasaran.

Dia hanya melambaikan tangan tanpa menjawab sambil berpaling dan menggandeng seorang wanita mesir.

Sejak kapan najib berkenalan dengan cewek, dan kukencangkan ayunan kakiku untuk menemukan pintu gerbang yang akan membawaku masuk kedalam, akanku tanya dia dimanakah jalan untuk pulang ke Buust.[3]

# # #

“itu dia!!” seruku dengan gembira, akupun lari meskipun kakiku yang tak beralas terus saja mengalirkan darah. Serentak aku terdiam setelah ku ketahui bahwa digerbang itu ada dua penjaga yang memakai pakaian serta hitam, tubuhnya yang besar dan mukanya yang seram membuat aku harus berfikir gimana caranya supaya aku bisa diizinkan masuk kedalam.

“mungkin itu syurthoh ‘asykary[4], sebaiknya aku hampiri dengan memasang wajah sedih dan nada yang sangat kecil sehingga membuat mereka iba, yang jelas bagaimana caranya aku bisa masuk kedalam taman itu, tak kuhiraukan lagi kuliahku, bayaran rumah yang aku sewa, ataupun keluarga ditanah air, pasportkupun tidak tahu ada dimana, kalau ditanya nanti aku jawab saja ketinggalan dirumah. Bismillah...

“assalamualaiku, hadrotak[5] mungkin ana boleh masuk” rayuku pada mereka Ditatapnya wajahku kemudian dicarinya dibuku tebal yang ada di genggamannya, harap-harap cemas mulai menghinggapi benakku,

“Ya Allah jadikanlah hambamu ini menjadi orang-orang yang terpilih!”do’aku pada-Nya yang tak putus-putus dari tadi, setelah berapa lama aku menunggu akhirnya satu diantara mereka menghampiriku kemudian mencekram bajuku.

“hei, ada apa ini?” tanyaku kaget padanya.

Tanpa bicara satu katapun dia langsung melemparkan aku dengan sekuat tenaganya ke angkasa, aku yang tak ada daya lagi untuk melawan hanya bisa berteriak sekuat tenaga

“toloooooooooooooooong....”

“Lil..bangun, kayaknya serem banget mimpinya”tanyanya padaku.

“Astagfirullah, aku mimpi” ucapku sambil berusaha menyenderkan tubuhku ke dinding ruang bim-bel siang itu sambil mengingat-ingat kembali cerita tentang mimpiku tadi.

“tadi bimbingannyo jadi dak[6]?” tanyaku pada udin teman yang kini ada disampingku.

“kak Yusufnyo dak dateng, lil ente belum sholat dzuhur kagek[7] waktunyo habis, ntar abis ashar kito ke tempat pemakaman yee!” udin mengingatkanku, kulihat jam tanganku sudah menunjukkan jam dua lewat lima belas menit.

“siapo yang mati, din?”tanyaku penasaran sambil mengernyitkan kening.

“Najib pagi tadi meninggal dunia dirumah sakit,”jelas udin padaku

“Innalillahi wa inna ilahi rojiữn”ucaoku kaget.

“orang tuanyo sudah merelakan untuk dikubur disini, insya allah akan dikuburkan habis ashar kagek, makonyo ente cepat shalat biar kito dak terlambat” ingat udin lagi padaku.

“iyo..” jawabku sambil tidak habis fikir memikirkan yang telah terjadi padaku saat ini, kucubit tanganku, ku pegang mukaku, kutatap wajahku didepan cermin sambil membayangkan perjalanan panjangku di alam yang tak kukenal sama sekali, kuingat kembali ketka aku melihat najib di taman yang indah itu.

“apakah itu surga?” tanyaku dalam hati kepada Tuhan, berarti aku tadi mati suri bukan mimpi.

# # #

Kutatap wajah najib yang sudah memucat seakan dia memberikan senyuman yang khas padaku, sahabat yang tak pernah lelah mengingatkan aku untuk berhenti merokok, untuk tidak bergadang malam dan yang tak pernah lelah mengajakku untuk menghadiri majlis Al-‘ilmi yang diadakan oleh masjid diasrama kami, tak terasa matakupun mulai basah,

ku ingat kembali gerakan-gerakan bibirnya waktu menjawab pertanyaanku tadi, seakan memberiku sebuah pesan penting, atau menyuruhku untuk menyusulnya pergi ketaman yang tak pernah merasakan malam.

Sedikit demi sedikit pelayat mulai mengundurkan diri dari tempat pemakaman, hingga akhirnya yang ada hanya aku, udin dan beberapa teman seangkatan.

“teman-teman ayo kita pulang bersama” tawar udin.

“ayo kita pulang, udah mau magrib!”dukung ikbal teman dari lahat yang satu rumah sama najib.

“din, caknyo aku dak balek ke buust, aku nak ke hay ‘asyir ketempat kawan, ado bisnis dikit”jelasku pada udin meskipun aku harus berbohong padanya tentang apa yang aku alami saat ini, padahal aku bukan ke hay ‘asyir aku ingin pergi kemasjid yang mau menampungku malam ini, aku ingin mencari jawaban dari apa yang terjadi padaku, najib dan masa depan.

“iyolah kalo cak itu”jawab udin singkat.

Kunaiki mobil enam lima putih yang akan membawaku ke masjid rab’ah al-adawea, aku berdiri diantara sesaknya penumpang dengan bau badan yang sangat menyengat, tapi tak kuhiraukan karena aku ingin menghabiskan malamku disana, aku ingin mencari arti hidup yang sebenarnya.

# # #



[1] Bangkai manusia

[2] Banget, jauh sekali

[3] Asrama mahasiswa asing yang terletak di Abbasea

[4] polisi

[5]

[6] tidak

[7] nanti

Reactions:

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews