Bangsa Koe--->>

Photobucket

Pages

3 Okt 2012

GUAM LANGIT

* Kelabu menyingkap di antara terang siang, matahari seakan panas tak bersahabat dalam lingkup waktu tanpa detik, para tuhan kini sedang bersidang di antara letupan panas matahari yang sombong. Mengutus diri dari peradaban yang mengagungkan nya, tetapi di anjungan langit. para dewa seakan berdebat sengit dalam persidangan, karna merasa di tuhan kan. terlihat tak bersahabat tatanan langit, karna para budi penghuni terbuyar dalam parade kemunafikan. jingga surya fatamorgana katululistiwa tak lagi menampakkan kemerahan, senja sunyi dalam penantian yang tak terhingga, seperti melihat tanah tak berumput, tuhan marah pada dirinya. tak menyangka tangan tidak lah bicara. hanya diam juga tak bisa, karna kelabu bukan untuk bumi bisa jadi selebuit kebohongan. tak kunjung terlihat karna para tuhan tak lagi berbicara pada langit, para penghuni berebut menjadi dewa atau patung yang di sembah... ah mereka hanya sekelompok kecil pertuhanan yang tak pernah habis dalam cerita khayangan. Seperti mayapada yang tergeletak dalam sumur mandalawangi. Sama hal nya dengan bidadari yang tak pernah turun untuk mandi atau bersuci ke dasar bumi. Trik seakan bermulai dari sini ketika kata tuhan berhenti dalam sabda, dan sabda terhenti di prilaku imajinasi, dan seakan aku bersyair seperti sabda, tapi ternyata syair-syairku tak lebih indah dari sabda yang sudah tertuai dan tertulis. Dengki dengan dosa – dosa yang terbuat agarlah bersih dalam kehambaan , jangan di pertanyakan lagi cerita mati dari kehidupan ini, mungkin kematian tak datang tanpa di sadari. lebih baik berkhayal tentang keindahan janji dalam ketulusan berhamba, tanpa di pungkiri juga ia akan terlewati dengan sendirinya, seperti tapak-tapak sejuta mili ketajaman pedang yang akan mengoyak setiap urat yang mengalirkan darah ini. mungkin tak percaya tapi yakin semua itu ada. keindahan tersendiri dalam estape waktu entah kapan ia akan datang dan akan ku arungi. ** Aku akan bermula dari impian yang menerawang tinggi dalam angan, seperti kala aku bersyair tanpa ada pertentangan dalam hidup. seperti kata nurani yang tak bisa terhentikan, bersuara dalam rintihan pemberontakan, tak kalah aku dalam perperangan tanpa nyata, sepeti emas bertaburan. senja membuat aku terkilau tapi terhenyak tersadar, karna emas itu hanya putih kekuning - kuningan yang terlihat. Tapi sekali lagi ternyata syair-syair ku tak begitu berharga dan sebanding dengan setitik sabda yang kau turun kan dari mana, di mana dan tak tau akan kemana. Bukan, tidak, mungkin, ah..... salah sebenarnya apa yang ingin aku katakan atau ku perbuat di sini, seakan aku lebih baik pergi, tanpa dan harus tau dari kemungkinan kehancuran dalam kelemahan ku. Seperti apa tuhan aku tak tau tapi aku menyakini engkau sebagai Robb keakuan ku, tak berdaya kala aku melihat nama mu. Oh ...ada rasa dalam kenikmatan bumi yang tersembunyi tanpa bekas atau tanda arah, semoga ada cerita kedua dari semua ini. Mungkin kah aku berguru pada maya?, yang tak memjanjikan kenikmatan yang tiada tara di bandingkan semesta yang tertumpuk dalam genggaman ku. mengapa tak ku syairkan dalam relung hati,??owh sungguh aku tak sanggup, mengapa ? karna aku tak sanggup, seakan aku berjalan tanpa dan memang aku berjalan tanpa arah, beri aku setitik tanda bahwa ada gelombang yang bertanda aku bisa berjalan tanpa ragu tertuju. Tak berbuat bukan berarti tak bisa tercipta walau mungkin tiada pernah, siapa yang bisa berucap tanpa mengerti apa yang diucap semoga aku bukan termasuk dalam katagori kalian dalam tuntunan yang menyesatkan dari ciptaan mu. Karna kehambaan ku bukan untuk di perjual kan apalagi dapat di beli? Semoga aku menadi urat kan letak diri dalam kehidupan ini semoga dan semoga aku berlari dari kelahiran yang tak pantas dari sejenak makna dari sekedar berbohong. *** Siap untuk berjalan bukan berarti mau berlari,kemudian terhenti ketika aku melihat paras yang tak lepas mata dan mulutnya berucap, komat-kamit berada dalam sekte atau aliran - aliran tertentu, tanpa tau apa maksud dari makna ucapan mereka tak mengerti aku, karna aku tak bisa memahami siapa dia dan siapa aku, ku rasa aku tidak mempunya sekte tertentu karna golongan bukan milik ku dan aku juga tak mau terikat dalam sekte,aliran atau apalah itu namanya? Ternyata pengikut nya bukan hanya sekedar mahluk tapi berlebih dari mahluk, datang dari daerah yang tak tau dimana rimba nya, meninggalkan tanah tercinta untuk dapat merayakan hari kebesaran untuk seseorang yang telah mati. Rela tidur di pinggiran jalan demi meninggalkan istana yang mewah, seperti apa dan bagai mana jika dunia memiliki sekte yang harus di ikuti tak tau lah aku, yang penting perjalan ini tak tejal semoga saja tak berliku. Pemujaan para tuhan yang mereka lakukan tak lebih meneriakkan dengan saling membunuh dan meninggal dalam perperangan, memukul diri sendiri, bahkan menusukkan besi panas di antara kulit ari yang tak begitu kebal, seperti orang gila atau seperti kesurupan yang tak bisa menghilang dalam teologi ilmu hitam atau apalah namanya untuk para murid dari tarekat tertentu hanya sebatas dongeng tapi ada. ____ Ternyata penilaian ku selama ini salah mutlak dari kebenaran yang ada, karna mereka yang kulihat menakutkan ternyata bersahabat dan sangat akrab di antara kehidupan yang tak lebih dari sekedar berhura-hura, para petapa menyepikan diri untuk sebuah ketenangan, menyendiri untuk keabadian hati, tapi mereka yang berhura untuk sebuah kesenangan juga yang mungkin dengan cara yang sedikit berbeda, karna para petapa dan penari yang ada di sini tak ada beda. Menari dengan asma yang mengagungkan ketuhanan dan memuji utusan dan menari tari kehidupan yang tak di mengerti dengan trik atau cara melihat sekali pun, karna tari ini tari ketuhanan. Sebagai kerendahan hati, sebagai diri dan tunduk, untuk bertanya kebesaran tuhan seperti apa? Aku tak tau karna aku tak mau masuk dalam sekte yang tak aku ketahui dalam cerita ke dua dalam empat dunia ku. Seakan mau aku berbicara pada kalian tentang kegelisahan hati ini, jika demikian sama saja aku membuka lebar jalan untuk para pembunuh yang siap menikam ku dari belakan tanpa ku sadari, buat apa juga aku bercerita - cerita yang tak kau lihat sendiri. Mereka tetap seperti mereka yang hanya mementingkan diri sendiri dalam kesedihan orang yang di buatnya susah, tetap mengambil kesempatan dari

0 comments:

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews